Doa Nabi Daud untuk Meluluhkan Hati

 


Banyak umat Islam yang mencari doa Nabi Daud ‘Alaihissalam yang dikenal mampu meluluhkan hati seseorang, khususnya dalam konteks hubungan sosial, keluarga, atau pasangan. Kisah kebijaksanaan Nabi Daud tercatat dalam Al-Qur’an sebagai seorang nabi yang memiliki suara indah, hikmah besar, dan kemuliaan akhlak sehingga hati manusia mudah tunduk dengan kata-kata beliau.


Dalam Surah Sad ayat 26 Allah berfirman:


يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ

“Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah di bumi…”


Ayat ini menjadi bukti bahwa Nabi Daud bukan hanya nabi, tetapi pemimpin yang dihormati dan dicintai, termasuk dihormati oleh kalangan yang keras hati sekalipun.


Doa Nabi Daud untuk Meluluhkan Hati


Doa yang paling populer di kalangan ulama terkait kelembutan hati adalah:


اللهم ألِّف بين قلوبنا وأصلح ذات بيننا واهدنا سبل السلام

(Allahumma allif baina qulūbinā wa ashlih dzāta baininā wa ihdinā subulassalām)

“Ya Allah, lembutkan hati kami, perbaikilah hubungan di antara kami, dan tunjukilah kami jalan keselamatan.”


Selain itu ada doa lain yang diriwayatkan dari ulama salaf dan dinisbatkan kepada hikmah Nabi Daud:


يا داوود من داوم على هذه الدعوة أحبّه الناس

Doa tersebut adalah:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي على طَاعَتِكَ وَلَيِّن قُلُوبَ عِبَادِكَ لِي

“Ya Allah yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas ketaatan-Mu dan lembutkan hati hamba-hamba-Mu kepadaku.”


Walaupun doa ini tidak berstatus hadis sahih, ia disebut dalam banyak kitab tasawuf dan hikmah.


Pendapat Ulama Klasik Beserta Referensi


Berikut lima ulama klasik yang menjelaskan doa Nabi Daud atau manfaatnya dalam melunakkan hati:


1. Imam Ibn Qayyim Al-Jawziyyah — Madarij As-Salikin


Ibn Qayyim menjelaskan bahwa doa yang berkaitan dengan melunakkan hati orang lain harus disertai tiga hal:


1. Keikhlasan

2. Adab terhadap Allah

3. Tidak bertujuan maksiat


Beliau menyebut bahwa doa semisal doa Nabi Daud tentang hati adalah bagian dari doa akhlaqi, bukan sihir sosial.


2. Imam Al-Ghazali — Ihya’ Ulumiddin


Al-Ghazali menulis bahwa hati manusia bisa lembut melalui:


1. Doa

2. Akhlak yang baik

3. Suara yang lembut sebagaimana diberikan kepada Nabi Daud


Beliau menyebut nama Nabi Daud sebagai contoh orang yang Allah jadikan ucapannya berwibawa dan masuk ke dalam hati manusia.


3. Imam An-Nawawi — Al-Adzkar


An-Nawawi menegaskan bahwa doa semacam ini termasuk doa umum yang boleh diamalkan siapa pun, meski tidak memiliki hadis sahih yang jelas.


Beliau memberi syarat:


“Selama tidak meyakininya sebagai ritual tetap dari Nabi, maka hukumnya boleh.”


4. Imam Al-Qurtubi — Tafsir Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an


Dalam menafsirkan ayat yang menyebut Nabi Daud sebagai khalifah, Al-Qurtubi berkata bahwa Allah menjadikan kepribadian Nabi Daud sangat lembut sehingga orang tunduk kepada bimbingannya.


Beliau menghubungkan kelembutan hati dengan dzikir dan doa yang terus menerus.


5. Imam At-Tabari — Jami’ Al-Bayan


At-Tabari menulis bahwa doa Nabi Daud berkaitan dengan tugas kepemimpinannya. Ia meminta kepada Allah agar hati rakyatnya lembut dan mudah menerima kebenaran.


Ini menunjukkan bahwa doa untuk meluluhkan hati orang adalah bagian dari tugas dakwah, bukan sekadar urusan personal.


Pendapat Ulama Kontemporer dan Referensi


Para ulama masa kini juga membahas populer doa Nabi Daud ini, terutama dalam konteks adab sosial, bukan sihir perasaan.


1. Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradawi — Fiqh ad-Du’a


Beliau menjelaskan bahwa doa untuk melunakkan hati bukan ditujukan untuk memanipulasi manusia, tetapi untuk mendapatkan hubungan sosial yang baik, seperti antara suami-istri, guru-murid, pemimpin-rakyat.


2. Syaikh Sa’id Al-Qahtani — Hisnul Muslim


Dalam kitab doa dan zikir paling terkenal ini, beliau memasukkan doa serupa dengan konteks lembutnya hati dan perbaikan hubungan, yang menunjukkan bahwa doa model ini disunnahkan secara makna walaupun tidak spesifik dari Nabi Daud.


3. Habib Umar bin Hafidz — Majmu’ Ad-Du’a


Habib Umar menegaskan bahwa doa Nabi Daud untuk melembutkan hati baik diamalkan selama tujuannya mulia dan tidak melanggar syariat.


4. Syaikh Ali Jum’ah — Al-Kalim ath-Thayyib


Beliau menjelaskan bahwa doa-doa yang dinisbatkan pada Nabi terdahulu termasuk doa mustahab selama tidak diyakini sebagai ibadah baku.


5. Imam Syekh Ahmad At-Tijani — Jawahir al-Ma’ani


Beliau menyebut doa yang dinisbatkan kepada Nabi Daud termasuk doa hikmah untuk hubungan manusia, bukan ritual khusus.


Adab Mengamalkan Doa Nabi Daud untuk Meluluhkan Hati


Para ulama memberikan beberapa syarat penting:


1. Tidak digunakan untuk maksiat

2. Tidak diyakini sebagai ritual tetap dari Nabi

3. Dibaca dengan hati yang ikhlas

4. Dibaca sebagai permohonan, bukan jaminan

5. Harus diiringi akhlak, bukan hanya membaca doa

6. Karena doa tanpa usaha akhlak tidak menghasilkan efek apa pun.


Kesimpulan


Doa Nabi Daud untuk meluluhkan hati bukan sekadar bacaan, tetapi bagian dari warisan hikmah untuk memperbaiki hubungan, meredakan emosi, dan memperkuat kasih sayang antar manusia. Para ulama sepakat bahwa doa ini boleh diamalkan, selama dimaksudkan untuk kebaikan dan mengikuti syariat.


Kisah Nabi Daud memberikan pelajaran bahwa kelembutan hati bukan datang dari tekanan, melainkan dari doa, akhlak, dan keyakinan kepada Allah.

Post a Comment