Sebagai seorang santri yang sejak dulu mempelajari banyak kitab tafsir dan sirah para Nabi, kisah Nabi Daud ‘Alaihissalam melawan Jalut (Goliath) selalu menjadi salah satu kisah yang paling memberi inspirasi keteguhan iman, keberanian, dan pertolongan Allah yang datang bukan kepada yang kuat secara fisik, tetapi kepada hamba yang yakin dan bertawakal.
Kisah ini merupakan bagian penting dalam sejarah para nabi dan disebutkan dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 251, di mana Allah berfirman:
فَهَزَمُوهُم بِإِذْنِ اللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُودُ جَالُوتَۖ وَءَاتَىٰهُ اللَّهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ...
“Maka mereka (tentara Talut) mengalahkan mereka (tentara Jalut) dengan izin Allah. Dan Daud membunuh Jalut; lalu Allah memberinya kerajaan dan hikmah...”
Ayat ini menjadi bukti bahwa kemenangan Nabi Daud bukanlah karena kekuatan duniawi, tetapi karena pertolongan Allah kepada seorang hamba yang ikhlas dan bertawakal.
Siapa Jalut dan Apa yang Membuatnya Ditakuti?
Dalam banyak kitab tafsir disebutkan bahwa Jalut (Goliath) adalah seorang pemimpin tentara yang memiliki tubuh sangat besar dan kekuatan fisik yang luar biasa. Banyak ulama menggambarkannya sebagai sosok yang ditakuti seluruh Bani Israil. Ia digambarkan sebagai raksasa dengan tubuh besar yang sulit ditaklukkan.
Bangsa Bani Israil pada saat itu takut menghadapi pasukan Jalut sehingga Allah menguji mereka melalui Talut, seorang pemimpin yang dipilih oleh Allah.
Bagaimana Nabi Daud Membunuh Jalut?
Sebagian ulama menyebut Nabi Daud masih sangat muda ketika melawan Jalut. Ia bukan dari jajaran tentara besar, tetapi Allah memberikan kepadanya keberanian, keyakinan, dan keahlian menggunakan batu dan ketapel.
Dengan izin Allah, sebuah batu kecil yang ia lepaskan menghantam kepala Jalut dan membunuhnya seketika.
Pendapat Para Ulama Tentang Kisah Nabi Daud dan Jalut
Berikut lima pendapat ulama klasik mengenai kisah ini, lengkap dengan sumber rujukan kitabnya:
1. Imam Ibn Katsir (Dalam Tafsir Al-Bidayah wan Nihayah dan Tafsir Ibn Katsir)
Ibn Katsir menjelaskan bahwa kemenangan Daud adalah bentuk karamah dan pertolongan Allah kepada hamba-Nya. Beliau menegaskan bahwa Nabi Daud bukan menang karena kekuatan fisiknya, tetapi karena keberanian dan keyakinan kepada Allah.
Menurut Ibn Katsir, kisah ini menunjukkan bahwa Allah meninggikan orang yang bersabar dan bertawakal, meskipun orang tersebut tidak memiliki kekuatan lahiriah sebesar lawannya.
2. Imam At-Tabari (Dalam Tafsir ath-Tabari)
At-Tabari menjelaskan bahwa Allah memilih Nabi Daud karena keimanan dan ketulusannya, bukan karena fisik atau jabatan. Ia juga menegaskan bahwa kisah ini menjadi pelajaran bahwa Allah memberikan kemenangan kepada siapa yang Dia kehendaki, meskipun tampak mustahil dari pandangan manusia.
Beliau juga meriwayatkan bahwa Nabi Daud dikenal sebagai ahli ibadah bahkan jauh sebelum menjadi raja.
3. Imam Al-Qurtubi (Dalam Tafsir Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an)
Menurut Al-Qurtubi, kisah ini menunjukkan pelajaran penting yaitu:
1. Pemimpin tidak ditentukan oleh kekuatan fisik semata
2. Kesabaran dan tawakal adalah senjata terbesar
3. Ujian adalah syarat datangnya kemenangan
Beliau juga menambahkan bahwa peristiwa ini adalah tanda kebesaran mukjizat para nabi.
4. Imam Fakhruddin Ar-Razi (Dalam Mafatih al-Ghayb)
Ar-Razi memaknai kisah ini secara filosofis. Beliau mengatakan bahwa kemenangan Nabi Daud atas Jalut adalah simbol bahwa akal, iman, dan hikmah lebih kuat daripada kekuatan fisik semata.
Menurutnya, Allah menakdirkan bahwa seorang yang sederhana tetapi penuh hikmah dapat mengalahkan seorang yang sombong dan angkuh.
5. Imam Al-Baghawi (Dalam Ma’alim at-Tanzil)
Al-Baghawi menyebut bahwa Nabi Daud sebelum menjadi nabi telah menjadi simbol keberanian di kalangan Bani Israil. Setelah mengalahkan Jalut, Allah memuliakannya dengan memberi:
1. Kenabian
2. Kerajaan
3. Kitab Zabur
Beliau menegaskan bahwa ini bukti bahwa kemuliaan datang setelah ujian, bukan sebelum ujian.
Pandangan Peneliti Barat Tentang Kisah Ini
Beberapa peneliti Barat menyebut kisah ini sebagai "The David and Goliath Story", dan mereka percaya bahwa ini bukan sekadar kisah perang, tetapi simbol:
1. Kemenangan moral atas tirani
2. Kemenangan kebenaran atas kesombongan
3. Kemenangan strategi cerdas atas kekuatan fisik besar
Tokoh di antaranya Karen Armstrong dalam bukunya “A History of God”, menyebut bahwa kisah ini menjadi salah satu cerita paling kuat yang menunjukkan peran iman dalam sejarah manusia.
Pelajaran Spiritual dari Kisah Nabi Daud
Sebagai seorang santri, saya melihat kisah ini bukan sekadar sejarah, tetapi petunjuk hidup:
1. Keyakinan kepada Allah lebih kuat dari semua ancaman.
2. Jangan meremehkan kemampuan diri meski tampak kecil.
3. Allah akan mengangkat derajat orang yang sabar dan tidak sombong.
4. Kemenangan datang bukan karena kekuatan, tetapi pertolongan Allah.
Kesimpulan
Kisah Nabi Daud melawan Jalut bukan hanya kisah peperangan, tetapi kisah yang sarat dengan pelajaran iman, keberanian, dan tawakal. Dari sudut pandang ulama klasik hingga peneliti modern, semuanya sepakat: kisah ini adalah simbol kekuatan spiritual melampaui kekuatan fisik.
Seorang santri belajar dari sini bahwa Allah bersama orang yang yakin, bukan dengan yang hanya mengandalkan kekuatan duniawi.

Posting Komentar