Kisah Nabi Musa alaihissalam membelah Laut Merah adalah salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah para Nabi yang Allah abadikan dalam Al-Qur'an. Mukjizat ini bukan sekadar kisah heroik, tetapi pelajaran besar tentang tauhid, keimanan, tawakkal, dan sunnatullah dalam pertolongan Allah.
Dalam dunia Islam, peristiwa ini menjadi sumber inspirasi bagi generasi sepanjang sejarah: bahwa ketika segala pintu tertutup, masih ada pintu pertolongan Allah yang tidak terduga.
Dalil Al-Qur’an Tentang Nabi Musa Membelah Laut
Peristiwa ini disebutkan dalam beberapa surah, salah satunya dalam:
QS. Asy-Syu’ara: 63
فَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنِ ٱضۡرِب بِّعَصَاكَ ٱلۡبَحۡرَۖ فَٱنفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرۡقٖ كَٱلطَّوۡدِ ٱلۡعَظِيمِ
Artinya:
"Lalu Kami wahyukan kepada Musa: 'Pukullah laut itu dengan tongkatmu', maka terbelahlah laut itu dan tiap-tiap belahan seperti gunung yang besar."
Ayat ini menunjukkan bahwa laut tidak terbelah karena kekuatan tongkat Musa, tetapi karena wahyu dan kehendak Allah.
Apakah Ada Hadis Tentang Peristiwa Ini?
Dalam Shahih Bukhari terdapat hadis yang menunjukkan keutamaan Musa dan penyelamatan Bani Israil:
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Hari ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan Musa dan Bani Israil dari musuh mereka, maka aku lebih berhak mengikuti Musa."
(HR. Bukhari)
Hadis ini berkaitan dengan puasa ‘Asyura’, sebagai bentuk syukur Nabi Musa kepada Allah.
Tafsir dan Pendapat Para Ulama Tentang Peristiwa Ini
Para mufassir dan ulama sejak dahulu telah membahas tafsir dan hikmah dari peristiwa ini. Berikut ringkasan pendapat minimal lima ulama besar Islam:
1. Tafsir Ibn Kathir (Tafsir al-Qur’an al-‘Azim)
Ibn Kathir menjelaskan bahwa Allah membelah laut menjadi dua belas jalur, sesuai jumlah kabilah Bani Israil. Setiap jalur dipisahkan oleh dinding air setinggi gunung.
Beliau menegaskan bahwa ini adalah mukjizat yang tidak tunduk pada hukum fisika, namun tunduk pada kekuasaan Allah.
2. Tafsir Al-Tabari (Jami’ al-Bayân)
Imam Al-Tabari menegaskan bahwa ayat ini menunjukkan puncak tawakkal Nabi Musa, karena beliau tidak bertanya "bagaimana caranya", tetapi langsung melaksanakan perintah Allah meskipun secara logika tampak mustahil.
Beliau juga menekankan kalimat "فَأَوْحَيْنَا" sebagai bukti bahwa mukjizat ini langsung terjadi dari wahyu Allah, bukan dari kemampuan Musa.
3. Imam Al-Qurtubi (Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an)
Al-Qurtubi menjelaskan bahwa terbelahnya laut adalah bukti bahwa sebab (tongkat) bukanlah pelaku utama, tetapi Allah-lah yang berbuat.
Ia menulis, "Tongkat hanyalah sarana, sedangkan pelaksana hakiki adalah Allah."
Ini menjadi kaidah akidah penting: segala sesuatu kembali kepada kehendak Allah.
4. Fakhruddin Ar-Razi (Mafâtih al-Ghayb)
Ar-Razi menafsirkan bahwa perintah Allah kepada Musa menunjukkan adab spiritual seorang nabi: menjalankan perintah Allah tanpa mempertanyakan logikanya.
Beliau menulis bahwa pertolongan datang justru saat hambanya sampai pada batas kemampuan dirinya, lalu bersandar total pada Allah.
5. Imam As-Sa'di (Taisir al-Karim ar-Rahman)
As-Sa'di menekankan aspek akhlak iman dari peristiwa ini: ujian, kesabaran, dan akhirnya pertolongan.
Beliau menjelaskan bahwa langkah Musa menunjukkan yakin kepada janji Allah, meskipun musuh di belakang dan laut terbentang di depan.
Hikmah dan Pelajaran dari Mukjizat Nabi Musa Membelah Laut
Kisah ini bukan hanya sejarah, tetapi peta kehidupan seorang mukmin. Ada beberapa pelajaran besar di dalamnya:
1. Tawakkal Hakiki
Ketika Bani Israil panik dan berkata:
"Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul!"
(QS. Asy-Syu’ara: 61)
Musa menjawab dengan penuh keyakinan:
"Sekali-kali tidak! Sesungguhnya bersamaku Tuhanku, Dia akan memberi petunjuk."
(QS. Asy-Syu’ara: 62)
Jawaban ini lahir dari iman yang kokoh dan keyakinan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.
2. Pertolongan Allah Datang Pada Waktu Terbaik
Allah tidak membelah laut saat Musa masih jauh dari pantai. Tapi ketika:
Di depan ada laut,
Di belakang ada pasukan Fir’aun,
Tidak ada tempat lari,
Saat itulah pertolongan Allah datang.
Ini menunjukkan bahwa Allah ingin mengajari Musa dan umatnya arti pasrah sepenuhnya sebelum pertolongan turun.
3. Sunnatullah: Ada Usaha, Baru Mukjizat
Allah mampu membelah laut tanpa tongkat, namun Dia memerintahkan Musa untuk memukul laut.
Ini menunjukkan prinsip:
"Pertolongan Allah ada setelah usaha manusia dilakukan."
4. Tanda Kekuasaan Allah Yang Sempurna
Apa yang mustahil secara logika dan sains, menjadi mudah bagi Allah.
Jika Allah berkehendak, laut pun tunduk.
5. Fir’aun Binasa Karena Kesombongan
Fir’aun bukan sekadar raja zalim—dia mengaku dirinya tuhan. Maka Allah menenggelamkannya dan menjadikannya pelajaran bagi manusia hingga hari ini.
Penutup
Kisah Nabi Musa ketika membelah laut bukan hanya menjadi kisah menakjubkan, tetapi menjadi pelajaran spiritual bagi umat Islam sepanjang zaman.
Mukjizat ini mengajarkan bahwa:
1. Keimanan harus lebih kuat daripada ketakutan,
2. Usaha harus mendahului doa,
3. Dan tawakkal harus mengiringi ikhtiar.
Ketika jalan hidup terasa buntu, ingatlah kisah Musa. Sebagaimana laut bisa terbelah oleh perintah Allah, maka jalan hidup manusia pun dapat terbuka oleh pertolongan-Nya.

Posting Komentar