Nabi Idris Menerima Wahyu dari Allah Berupa Suhuf: Ini Jumlahnya Menurut Pendapat Ulama



Nabi Idris AS adalah salah satu nabi yang memiliki kedudukan istimewa dalam tradisi Islam. Al-Qur’an menyebutnya sebagai sosok yang ṣiddīq (sangat jujur) dan nabiyyā (seorang nabi yang diutus). Beliau dikenal sebagai salah satu manusia pertama yang diperintahkan untuk membaca, menulis, dan mengajarkan pengetahuan kepada umatnya. Di antara pembahasan penting mengenai Nabi Idris adalah wahyu yang ia terima dalam bentuk suhuf (lembaran wahyu). Pertanyaannya: berapa jumlah suhuf yang diturunkan kepada Nabi Idris?


Meskipun mayoritas ulama memiliki jawaban yang sama, pembahasan ini tetap menarik karena adanya variasi pendapat dari para ulama klasik hingga kontemporer. Artikel ini akan membahas jawaban tersebut secara rinci berdasarkan sumber sejarah Islam, tafsir klasik, dan kitab hadis.


Nabi Idris dalam Al-Qur’an


Nama Nabi Idris disebutkan dua kali dalam Al-Qur’an, yaitu pada Surah Maryam ayat 56–57 dan Al-Anbiya ayat 85. Allah berfirman:


وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِدْرِيسَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا


"Dan sebutkanlah dalam Kitab (Al-Qur’an) tentang Idris. Sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat benar dan seorang nabi."

(QS. Maryam: 56)


Ayat ini menjadi landasan utama bahwa Nabi Idris adalah nabi yang menerima wahyu. Namun, Al-Qur’an tidak menyebutkan secara eksplisit jumlah suhuf yang diberikan kepadanya. Karena itu, para ulama merujuk kepada riwayat hadis, sejarah, serta pendapat ahli sirah untuk menetapkan jumlah suhuf tersebut.


Berapa Jumlah Suhuf Nabi Idris?


Pendapat paling terkenal dalam tradisi Islam mengatakan bahwa Nabi Idris menerima 30 suhuf dari Allah. Pandangan ini banyak ditemukan dalam kitab sejarah, tafsir, dan karya ulama ahli hadis. Namun, ada beberapa pendapat lain yang juga dicatat sebagai bagian dari warisan keilmuan Islam.


Untuk memahami secara lebih lengkap, berikut adalah lima pendapat ulama beserta sumber rujukannya.


Pendapat Para Ulama Tentang Jumlah Suhuf Nabi Idris

1. Ibn Katsir — 30 Suhuf (Pendapat Terkuat dan Terpopuler)


Dalam kitab Al-Bidāyah wan-Nihāyah, Ibn Katsir menyebutkan bahwa Nabi Idris menerima 30 suhuf dari Allah. Pendapat ini didasarkan pada beberapa riwayat yang juga dikutip oleh ahli hadis lainnya.


Menurut Ibn Katsir, suhuf tersebut berisi petunjuk ibadah, akhlak, aturan kehidupan sosial, serta prinsip perhitungan waktu dan penanggalan.


Pendapat ini kemudian menjadi rujukan mayoritas ulama setelahnya.


2. Imam As-Suyūṭī — 30 Suhuf (Mengikuti Riwayat Masyrūr)


Dalam kitab Al-Durr al-Mantsūr, Imam As-Suyūṭī memperkuat pendapat Ibn Katsir bahwa Nabi Idris adalah penerima 30 suhuf. Ia mengutip riwayat ulama hadis dan sahabat yang menguatkan angka tersebut.


Menurut As-Suyuthi, suhuf ini menandakan bahwa Nabi Idris adalah salah satu nabi awal yang menerima hukum syariat sebelum Taurat diturunkan kepada Nabi Musa.


3. Ath-Thabari — Riwayat Berbeda: 10 hingga 30 Suhuf


Dalam karya sejarah monumental Tārīkh al-Umam wal-Mulūk, Imam Ath-Thabari menyebutkan adanya dua riwayat mengenai jumlah suhuf:


Riwayat pertama: 10 suhuf


Riwayat kedua: 30 suhuf


Ath-Thabari tidak menetapkan mana yang benar, tetapi mencatat keduanya sebagai bagian dari catatan sejarah Islam. Menurutnya, angka 30 lebih kuat, karena didukung banyak sanad.


4. Imam Al-Qurthubi — Tidak Menentukan Jumlah


Dalam Tafsir Al-Qurthubi, beliau menyebutkan bahwa Idris adalah nabi penerima suhuf, tetapi jumlahnya tidak dapat dipastikan melalui dalil pasti. Ia bersikap berhati-hati karena sebagian riwayat tersebut tidak mutawatir secara sanad.


Namun, beliau tetap mengakui bahwa riwayat mengenai 30 suhuf adalah yang paling masyhur di kalangan ulama.


5. Syekh Nawawi Al-Bantani — 30 Suhuf (Pendapat Masyrūr Ulama Pesantren)


Dalam kitab Qishash al-Anbiyā’, Syekh Nawawi Al-Bantani menyebutkan bahwa pendapat yang paling banyak disepakati adalah bahwa Nabi Idris menerima 30 suhuf. Ia mendukung riwayat Ibn Katsir dan As-Suyuthi, serta menyebut bahwa suhuf tersebut berisi ilmu akhlak, astronomi, penulisan, dan etika sosial.


Pendapat beliau banyak digunakan di pesantren tradisional di Nusantara.

Post a Comment