Nabi Musa Lahir di Kota Apa?. Berikut Kisah, Dalil, dan Tinjauan Ulama & Peneliti Barat

 


Kisah kelahiran Nabi Musa alaihissalam adalah bagian penting dari sejarah wahyu dan dakwah kenabian. Al-Qur’an menggambarkan lahirnya Musa sebagai peristiwa yang sarat mukjizat, berada dalam situasi politik yang keras, serta menjadi bagian dari rencana besar Allah dalam menyelamatkan Bani Israil dari kezaliman Fir’aun.


Sebagai seorang santri yang pernah belajar di Mesir, kisah ini terasa sangat hidup. Mesir bukan hanya sekadar nama dalam ayat, tetapi tempat nyata yang menyimpan jejak budaya, arsitektur, sungai Nil, dan tradisi kuno yang membuat perjalanan memahami kisah Musa terasa lebih mendalam. Ketika mengkaji tafsir di Masjid Al-Azhar atau perpustakaan Darul Kutub, kisah ini sering dibahas berulang, bukan sekadar sejarah, tetapi sebagai pelajaran iman, dakwah, dan strategi hidup.


Kelahiran Nabi Musa dalam Al-Qur’an


Al-Qur’an menggambarkan suasana politik Mesir saat kelahiran Nabi Musa: Fir’aun memerintahkan pembunuhan bayi laki-laki Bani Israil karena takut kekuasaan dan ramalan yang menyebutkan akan lahir seorang anak laki-laki yang akan menghancurkan kerajaannya.


Allah menegaskan peristiwa ini di dalam Surah Al-Qashash ayat 7–9:


“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa: Susuilah dia, dan apabila engkau takut terhadapnya, maka hanyutkanlah dia ke sungai, dan jangan takut dan jangan bersedih. Sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya salah satu dari para rasul.”


Ayat ini menjadi bukti bahwa sejak awal, kelahiran Nabi Musa bukan peristiwa biasa, tetapi bagian dari skenario Ilahi yang penuh rahasia.


Dimanakah Musa Dilahirkan?


Mayoritas ulama sepakat bahwa Nabi Musa lahir di Mesir, lebih tepatnya di wilayah urban dekat pusat kekuasaan Firaun. Dalam literatur tafsir klasik sering disebut bahwa Musa lahir di kota, bukan di dusun terpencil.


Sebagian riwayat menyebutkan tempat lahirnya dekat istana Fir’aun, agar tidak jauh dari pusat pengawasan, sementara pendapat lain menyatakan lahirnya di lingkungan komunitas Bani Israil yang tinggal terpisah tetapi masih dalam wilayah kota.


Walaupun detail lokasi tidak dijelaskan secara eksplisit dalam Al-Qur’an, para ahli tafsir sepakat bahwa Musa tidak lahir di padang gurun atau daerah perbatasan, tetapi di lingkungan kota Mesir kuno.


Pendapat 5 Ulama Islam Tentang Kelahiran Musa

1. Ibn Kathir – Kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah dan Tafsir Ibn Kathir


Ibn Kathir menyebut bahwa Musa lahir saat Fir’aun menerapkan kebijakan pembantaian bayi laki-laki. Ia menegaskan kelahiran Musa berada di lingkungan kota demi mendekati konteks istana Fir’aun, karena dari situlah skenario penyelamatan dimulai.


2. Imam Al-Tabari – Kitab Tarikh al-Umam wa al-Muluk


Al-Tabari mencatat bahwa Musa lahir di kota Mesir dekat istana Fir’aun. Ia juga menyebut riwayat bahwa ibu Musa menyembunyikan kelahirannya selama beberapa waktu sebelum menaruhnya ke Sungai Nil.


3. Al-Qurtubi – Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an


Al-Qurtubi menjelaskan bahwa Musa lahir di pusat masyarakat, bukan di desa. Menurutnya, ini menunjukkan bahwa Allah ingin menjadikan mukjizat penyelamatan Musa terjadi secara terang-terangan di hadapan kekuasaan Fir’aun.


4. Fakhruddin Ar-Razi – Mafâtih al-Ghayb


Ar-Razi menekankan aspek psikologis suasana kelahiran Musa: ketakutan ibu Musa, kondisi politik menegangkan, dan pertarungan antara wahyu dan kekuasaan. Ia juga setuju Musa lahir di kota karena seluruh rangkaian peristiwa menunjukkan kedekatan dengan istana Firaun.


5. As-Sa’di – Tafsir As-Sa’di


As-Sa’di menafsirkan bahwa Musa lahir di kota untuk menunjukkan bahwa kekuasaan dunia tidak mampu menghalangi ketetapan Allah. Fir’aun hidup di istana megah, pasukan lengkap, tetapi bayi yang ditakutinya keluar justru dari kota yang ia kuasai sendiri.


Perspektif 5 Peneliti Barat


Penelitian modern sering mencoba memverifikasi apakah kisah Musa memiliki dasar sejarah. Berikut ringkasan pandangan lima tokoh Barat yang sering dibahas dalam kajian akademik:


1. James K. Hoffmeier


Dalam studinya tentang Israel di Mesir, Hoffmeier menyatakan bahwa konteks sosial Mesir kuno mendukung kemungkinan kelahiran Musa di wilayah urban dekat pusat politik.


2. Kenneth A. Kitchen


Dalam penelitian arkeologi dan sejarah Timur Dekat kuno, Kitchen menilai banyak detail dalam kisah Musa sesuai struktur sosial Mesir kuno, termasuk praktik birokrasi dan pengawasan terhadap kelompok asing.


3. Israel Finkelstein


Meski lebih skeptis, Finkelstein menyatakan bahwa cerita Musa mungkin merupakan refleksi tradisi yang terbentuk dari pengalaman Israel kuno di Mesir. Ia menyebut lokasi kelahiran Musa berupa daerah pemukiman Bani Israil di kota besar Mesir.


4. John Van Seters


Van Seters menyebutkan kemungkinan kelahiran Musa berkaitan dengan komunitas semitik di Mesir yang berada dekat pusat pemerintahan, bukan di daerah nomadik atau gurun.


5. Richard Elliott Friedman


Dalam kritik tekstualnya, Friedman melihat kisah Musa sebagai kombinasi tradisi. Namun ia sepakat bahwa narasi menggambarkan Musa lahir di wilayah kota di bawah kekuasaan Fir’aun.


Pelajaran Iman dan Sejarah dari Kelahiran Musa


Sebagai santri, para masyayikh di Mesir sering menyampaikan bahwa hikmah dari kisah kelahiran Musa adalah:


1. Takdir Allah melampaui kekuatan penguasa.

2. Ketakutan manusia tidak mampu membatalkan janji Allah.

3. Satu bayi bisa mengubah sejarah sebuah bangsa.

4. Ilham Allah kepada ibu Musa menunjukkan hubungan spiritual antara wahyu dan kepasrahan.



Nabi Musa lahir di kota Mesir dalam kondisi politik represif. Baik menurut ulama Islam maupun sebagian peneliti modern, konteks kelahirannya terkait erat dengan pusat kekuasaan Fir’aun, bukan di tempat terpencil.


Kelahiran Musa bukan hanya catatan sejarah — tetapi bukti bahwa Allah mengatur kehidupan dengan sempurna, bahkan ketika manusia merasa tidak ada jalan keluar.

Post a Comment