Kisah Wafatnya Nabi Daud AS: Riwayat Lengkap Menurut Para Ulama Sejarah Islam

 


Kisah Nabi Daud ‘Alaihissalam bukan hanya terkenal karena keberaniannya ketika mengalahkan Jalut atau kejayaannya sebagai raja dan nabi. Namun, perjalanan hidup beliau juga diakhiri dengan kisah wafat yang menyentuh dan penuh hikmah. Sebagai seorang santri yang pernah membaca berbagai kitab sejarah Islam dan tafsir klasik, kisah wafat Nabi Daud bukan sekadar informasi sejarah—melainkan pelajaran tentang kemuliaan hidup seorang nabi yang penuh ibadah, keadilan, dan ketaatan kepada Allah.


Nama Nabi Daud disebut dalam Al-Qur’an lebih dari 16 kali. Allah memuji beliau sebagai hamba yang kuat, berilmu, dan ahli ibadah. Bahkan dalam Surah Shad ayat 17, Allah menyebut:


وَاذْكُرْ عَبْدَنَا دَاوُودَ ذَا الْأَيْدِ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ

“Ingatlah hamba Kami Daud, yang mempunyai kekuatan. Sesungguhnya dia banyak kembali kepada Allah.”


Namun, bagaimana Nabi Daud wafat? Para ulama sejarah menjelaskan detail wafat beliau dalam berbagai kitab, dan berikut adalah rangkuman riwayat berdasarkan lima ulama besar.


Baca Juga Nabi Daud Hidup di Masa Raja Siapa?


1. Riwayat Imam Ibn Katsir — Kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah


Menurut Ibn Katsir, Nabi Daud wafat pada usia sekitar 100 tahun. Beliau menjelaskan bahwa Nabi Daud dikenal sebagai nabi yang sangat tekun beribadah. Salah satu riwayat mengatakan bahwa ketika beliau wafat, keadaan bumi menjadi sangat panas dan Allah memerintahkan burung-burung membentangkan sayap di udara seperti payung agar memberi teduh.


Ibn Katsir juga menyebut bahwa wafatnya Nabi Daud terjadi dalam keadaan beliau sedang beribadah. Dalam beberapa riwayat, Nabi Daud wafat ketika berada dalam mihrab ibadahnya, menunjukkan bahwa hidup beliau ditutup dengan ketaatan.


2. Riwayat Imam At-Tabari — Kitab Tarikh al-Umam wa al-Muluk


At-Tabari menambahkan detail menarik mengenai kisah wafat Nabi Daud. Menurutnya, sebelum wafat beliau telah memberikan wasiat kepada anaknya, Nabi Sulaiman, agar memimpin dengan adil dan bijaksana.


At-Tabari juga mencatat riwayat bahwa ketika Nabi Daud wafat, jumlah manusia yang hadir sangat besar karena beliau dikenal sebagai pemimpin yang dicintai rakyat dan dihormati sebagai nabi dan raja.


Bahkan, menurut At-Tabari, sebagian malaikat hadir saat prosesi wafatnya, menunjukkan kemuliaan beliau di sisi Allah.


3. Pandangan Imam Al-Qurtubi — Dalam Tafsir Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an


Al-Qurtubi dalam tafsirnya tidak hanya menyebut wafat Nabi Daud, tetapi juga menghubungkannya dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang memuji beliau.


Menurut Al-Qurtubi, wafatnya Nabi Daud menjadi pelajaran bahwa setiap manusia—bahkan nabi dan raja—tetap tunduk kepada maut, sebagaimana firman Allah:


كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap yang bernyawa pasti akan mati.”


Al-Qurtubi juga menyebut bahwa Nabi Daud adalah nabi yang paling rajin berpuasa dan shalat malam. Saat wafat, ibadah beliau tidak berhenti, menunjukkan bahwa akhir hidup beliau sangat mulia.


4. Riwayat Imam Fakhruddin Ar-Razi — Kitab Mafatih al-Ghayb


Ar-Razi menekankan aspek hikmah dari wafat Nabi Daud. Menurutnya, wafat Nabi Daud adalah simbol perpindahan amanah kenabian dari seorang nabi yang dikenal dengan kekuatan fisik dan ibadah kepada anaknya Nabi Sulaiman yang dikenal dengan hikmah dan kecerdasan kepemimpinan.


Baca Juga Nabi Musa Lahir di Kota Apa? Berikut Pendapat Ulama


Ar-Razi juga menyebut bahwa Nabi Daud wafat secara tenang, bukan terbunuh atau terkena musibah. Hal ini menurut beliau menunjukkan bahwa Allah menjaga kehormatan para nabi hingga akhir hayat.


5. Riwayat Imam Ibn Hibban — Dalam As-Sirah an-Nabawiyyah wal Anbiya’


Menurut Ibn Hibban, salah satu riwayat sahih menyebut bahwa setelah Nabi Daud wafat, Nabi Sulaiman mengambil alih pemerintahan. Beliau memakamkan ayahnya dengan penuh penghormatan.


Riwayat lain dalam kitab ini menjelaskan bahwa jasad Nabi Daud tidak membusuk, sebagaimana sifat jasad para nabi. Hal ini berdasarkan hadis Nabi Muhammad ﷺ yang menyebut bahwa bumi tidak memakan jasad para nabi.


Dapatkan Buku Kisah Para Nabi untuk Balita


Beberapa Hikmah dari Wafatnya Nabi Daud


Sebagai santri, saya memahami bahwa kisah wafat para nabi bukan sekadar sejarah, tetapi pelajaran akhlak dan kehidupan:


1. Kematian adalah akhir bagi semua makhluk


Meski Nabi Daud adalah nabi, raja, dan pahlawan hebat, beliau tetap wafat — mengingatkan manusia agar tidak sombong.


2. Allah memuliakan hamba-Nya yang taat


Beliau wafat dalam ibadah, dan itu adalah kematian terbaik bagi seorang mukmin.


3. Kekuasaan adalah amanah, bukan warisan dunia


Nabi Daud meninggalkan pesan kepada Nabi Sulaiman untuk memimpin dengan adil.


4. Ketakwaan lebih tinggi dari jabatan


Allah memuji Nabi Daud sebagai Awwāb — yaitu orang yang sering kembali kepada-Nya.


Baca Juga Nabi Idris Merupakan Nabi Ke Berapa?


Kesimpulan


Kisah wafatnya Nabi Daud bukan kisah biasa. Ia adalah penutup perjalanan seorang nabi yang hidup sebagai:


1. Penguasa yang adil

2. Pemimpin yang bijak

3. Ahli ibadah yang taat

4. Pejuang kebenaran


Para ulama seperti Ibn Katsir, At-Tabari, Al-Qurtubi, Ar-Razi, dan Ibn Hibban menjelaskan bahwa Nabi Daud wafat dengan mulia, tenang, dan dalam keadaan beribadah — menunjukkan kedudukan agung beliau di sisi Allah.


Kisah ini memberi pelajaran bagi umat bahwa kemuliaan sejati bukan terletak pada kekuasaan atau kemenangan fisik, tetapi pada ketakwaan, ibadah, dan ketaatan kepada Allah hingga akhir hayat.


Mau Buku Kisah Nabi Untuk Anak Anda Ini Buku Kisah Nabi untuk Anak-Anak

Post a Comment